Senin, 28 November 2011

Mengidentifikasi Peristiwa, Pelaku dan Perwatakannya, Dialog, dan Konflik pada Pementasan Drama

    
    Pementasan Drama

Cerita drama sebenarnya adalah memindahkan kehidupan sehari-hari ke atas panggung. Peristiwa-peristiwa yang  membangun cerita itu tidak berdiri sendiri, tetapi satu dengan yang lain saling berkaitan. Diantara peristiwa-peristiwa itu, ada peristiwa besar dan kecil. Ada peristiwa yang penting dan menjadi inti cerita ada juga yang tidak penting. Ditinjau dari kedudukan dan perannya ada peristiwa yang menjadi bagian dari fase eksposisi/paparan, konflik/pertikaian, komplikasi/perumitan, dan klimaks/puncak gawatan. Sebagai sebuah peristiwa yang nyata dan utuh, kita dapat mengidentifikasi apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana.

Dialog pada Pementasan Drama
Unsur pertama pementasan drama adalah melakukan akting dan dialog. Dialog tidak dapat dilakukan tanpa dasar atau asal bicara, tetapi harus didasarkan pada peran karakter, kecerdasan, pendidikan, keadaan fisik, pekerjaan, status sosial, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tokoh yang diperankan.
Dilihat dari fungsinya, seorang ahli drama mengelompokkan 4 fungsi dialog, yaitu:
 a. Untuk mengemukakan persoalan.
 b. Untuk menjelaskan perihal tokoh  dan karakternya.
 c. Untuk menggerakkan alur/plot.
 d. Untuk membukakan fakta.

    Pelaku dan Perwatakannya
Tokoh merupakan penggambaran dari berbagai karakter manusia yang dijumpai dalam hidup sehari-hari. Dilihat dari perannya, tokoh dibedakan atas tokoh utama yang memegang posisi sentral dan tokoh pendamping. Tokoh utama mengemban cita-cita atau amanat cerita yang hendak disampaikan kepada penonton, sehingga frekuensi kemunculannya diatas panggung akan lebih sering dibanding dengan tokoh lain. Tokoh utama juga dilukiskan secara lebih utuh, baik dimensi fisik, psikis, maupun sosialnya, tokoh ini disebut tokoh protagonis, sedangkan lawannya disebut tokoh antagonis. Untuk mendamaikan pertikaian kedua tokoh itu diperlukan tokoh tritagonis yang bersifat netral.

            Tingkatan tokoh pendamping:
1. Tokoh figuran yang berfungsi sebagai pelengkap latar suasana dan kehadiranya tidak begitu berpengaruh pada perkembangan alur cerita.
2. Pemain drama dikatakan berhasil apabila setiap tindakan, tutur kata dan gerak-geriknya selaras dan mempresentasikan watak tokoh yang diperankan.
3. Watak tokoh tidak hanya tergambar dari tindak tanduk, tetapi juga dari dialog, kostum, tata rias, dan keseluruhan yang ada dalam diri tokoh.
    Konflik yang Ada Dalam Drama
Cerita dalam drama tidak akan bergerak apabila semua tokoh memiliki watak, sikap, pandangan, dan harapan yang sama. Cerita bergerak karena muncul konflik yang dipicu oleh adanya perbedaan-perbedaan antar tokoh. Konflik tidak selalu terjadi secara eksternal, yaitu tokoh dengan tokoh yang lain, tetapi juga dapat terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri (konflik internal). Konflik juga bisa dialami tokoh dengan keadaan di sekelilingnya (konflik sosial) dan dengan kepercayaan/keyakinan hidupnya (konflik batin/moral).


 

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar